Rabu, 30 Oktober 2013

Ia Contoh dan Teladan Ku Di Sepanjang Masa

Dari kecil hingga sekarang dewasa, ku melihat sosok wajah yang sangat teduh, wajah yang menampakan cahaya keindahan yang terpancar dari dirinya, membuat ku melihatnya seakan menjadi sejuk dan semua beban yang ada di hidup ku seolah hilang, kasih sayangnya yang begitu dalam terhadap diriku dengan merawat ku, menjaga ku dengan kasih sayangnya yang tulus. Saat Allah mentakdirkan ku bahwa ku akan hidup di dunia ini, dan saat ku berada dalam kandungannya selama 9 bulan. Ia dengan susah payah menjaga ku meskipun sering Ia merasakan sakit dan perih ketika mengandung ku, dengan tulus dan sabar Ia menjaga ku agar kelak lahir menjadi sosok bayi yang sehat dan baik. Selama 9 bulan Ia mengandung, dengan keringat dan dengan rasa sakit tetapi Ia selalu berusaha menjaganya. Ia tetap melakukan pekerjaan rumah meskipun terkadang Ia merasa lelah. Ia tak pernah merasa bosan tetapi justru Ia merasa sangat bahagia. Setiap selesai shalat, Do’a selalu Ia panjatkan untuk ku agar kelak lahir dengan sehat dan menjadi anak yang dapat membahagiakannya dan berguna bagi orang lain. Hingga akhirnya tiba waktunya aku akan lahir, betapa sakit luar biasa yang Ia rasakan,  keringat bercucuran menahan sakit dan darah yang keluar itu menjadi bukti sejarah tanda pengorbanan hidupnya hanya untuk diriku, meskipun nyawa yang mengancamnya, meskipun Ia harus mengorbankan seluruh nyawanya hanya agar aku bisa lahir dengan selamat dan bisa melihat indahnya dunia ini, Ia terus berusaha dan berdo'a kepada Allah agar ku lahir dengan selamat. Hingga akhirnya pun aku lahir terlihat raut wajah yang begitu bahagia darinya dan air mata mengalir tanda kebahagiaan yang amat sangat di dalam hatinya.  Memeluk dan menyusui ku dengan penuh kasih sayangnya, meskipun rasa sakit masih Ia rasakan tetapi, rasa sakitnya tertutupi oleh kebahagiaan tiada tara di hatinya melihat diriku lahir dengan selamat dan sehat. Dzikir selalu Ia panjatkan dan mengucapkan syukur kepada-NYA. Hingga aku pun beranjak dari tahun ke tahun sikap ku yang baru tahap belajar dan sering nakal terhadapnya sering merepotkan ketika Ia harus membersihkan hadas kecil maupun hadas besar ku, tak pernah ada rasa jijik bahkan dengan tulus Ia mau membersihkannya. Dengan sabar Ia mengajari ku membaca, menulis dan belajar berbicara, saat belajar berbicara kata pertama yang ku ucapkan adalah namanya, ketika Ia mendengar itu Ia terlihat bangga dan senang. Ketika aku sakit pun Ia selalu dengan sabar merawat ku  memberikan ku sebuah obat yang tak ternilai harganya di bandingan dengan pengobatan orang lain. Meskipun ku tahu bahwa dirinya pun sedang sakit tetapi, tak sedikitpun Ia mengeluh dengan semua pekerjaan rumah dan terus Ia kerjakan tak kenal lelah. Meskipun Ia terlihat pucat, lelah namun Ia mampu membereskan semua pekerjaan rumah, dan mampu merawat  diriku yang sedang sakit. Ia sangat menginginkan agar aku cepat sembuh dan Ia akan sangat bahagia bila melihat aku kembali sehat. aku melihat air matanya seolah mengalir terus berdo’a menangis di setiap sehabis shalatnya, berharap agar diriku cepat sembuh. Berdo’a agar aku juga bisa sukses kelak nantinya. Setiap selesai shalat alunan do’a Ia panjatkan untuk anaknya. Meskipun terkadang aku sering menyakiti hatinya karena sikap dan lisan ku, meskipun terkadang Ia sangat kecewa, marah bahkan hingga sedih. Tetapi, Ia tak pernah mencampakkan aku, Ia tak pernah sekalipun tidak memperdulikan aku, Ia selalu mampu memaafkan semua kesalahan ku, entah terbuat dari apa hatinya yang sangat mulia itu? Saat aku merasa sendirian Ia selalu menemani memberikan semangat dan motivasi. Ia adalah sang motivator yang terbaik dalam hidup ku. Semua perkataan dan perbuatan yang di lakukan demi keluarganya untuk membahagiakan suaminya dan anak-anaknya dan menjadi sosok perempuan yang sholehah. Hingga sekarang aku sampai beranjak dewasa dan menempuh pendidikan tinggi, Ia masih terus membimbing dan mendo'akan ku. Saat aku telah beranjak dewasa yaitu masa-masa dimana saat kita mulai tertarik dengan lawan jenis. Saat aku butuh pendapat tentangnya sikap ku harus bagaimana, Ia selalu menasehati ku agar selalu fokus untuk sekolah dan belajar, Ia selalu berpesan untuk menjaga diri ku baik-baik, menyuruh ku agar terus dekat dengan Sang Maha Pencipta agar diriku jangan sampai tersesat ke jalan buruk. Di dalam hatinya selalu berdo'a untuk aku agar Allah selalu melindungi dimanapun ku berada. Ketika aku dapat berprestasi di sekolah, di balik itu semua terdapat sosok perempuan mulia dan istimewa, mulai dari aku dalam kandungan hingga tumbuh dewasa seperti ini yang selalu membimbing ku, Ia yang selalu berdo'a kepada-NYA agar cita-cita ku tercapai dan ku menjadi sosok yang di banggakannya karena prestasi. Ia tak pernah meminta apapun dari diriku, Ia hanya minta agar aku selalu mengingat Allah, agar aku selalu menjadi anak yang sholehah, agar aku bisa patuh terhadap orang tua, Ia tak pernah meminta sesuatu yang sangat berharga dari ku, Ia hanya ingin kelak aku tumbuh dewasa menjadi sosok yang luar biasa dan berguna bagi orang lain dan aku menjadi sosok anak yang taat kepada Allah dan berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan aku mungkin pernah saat aku meraih prestasi aku lupa terhadapnya. Padahal semua yang aku dapatkan sekarang semua karena keikhlasannya, Pengorbanannya yang sangat luar biasa kepada ku. Pengorbanan dan jasanya yang tak akan mampu ku membalasnya. Meskipun aku memberikan semua harta yang ada di dunia ini itu tak akan mampu menandingi semua pengorbanan dan jasanya dalam hidup ku. Ia adalah sosok perempuan kuat, tegar, dan lemah lembut. Meskipun hatinya sering terluka, marah, kecewa terhadap sikap ku. Tetapi, Ia tidak pernah sedikitpun dendam, Ia mampu selalu memaafkan ku bahkan Ia selalu medo'akan aku agar Allah selalu memaafkan sikap ku terhadapnya. Sungguh Ia adalah pahlawan luar biasa dalam hidup ku. Dan tanpanya hingga saat ini mungkin aku bukan apa-apa dan tak menjadi seperti sekarang dapat melihat indahnya dunia ini, melihat alam yang luar biasa ciptaan-NYA di dunia ini, dan dapat menempuh pendidikan tinggi. Di balik semua kesuksesan aku, ada Ia yaitu sosok perempuan yang sangat luar biasa, pahlawan di dalam hidup ku yang sejati. Semua pengorbanan Ia lakukan hanya untuk demi keluarganya dan anak-anaknya, demi aku menjadi sosok yang sekarang atau bahkan kelak nanti menjadi orang yang sukses yang dapat membanggakan semua orang. Pesan Ia hanya satu ketika aku sukses Ia ingin aku selalu mengingat Allah agar aku tak menjadi sombong dan selalu mensyukuri segala nikmat dan karunia-NYA. Ia adalah inspirasi dalam hidup ku, Inspirasi dalam segala hal untuk meraih cita-cita dan kesuksesan ku. Pengorbanannya yang luar biasa untuk ku patut menjadi contoh dan teladan dalam hidup ku. Maha suci Allah yang menciptakan Ia sosok perempuan istimewa yang luar biasa yang hatinya begitu mulia. Ia adalah sosok yang menjadi teladan dsan menjadi isnpirasi diriku saat ini maupun di masa yang akan datang. Semoga Allah selalu menjaganya dan melindunginya dan semoga Ia bahagia dunia dan akhirat.

Rabu, 27 Juni 2012

For You the Best Friends.. :)

Kamis, 21 Juli 2011

Tips Menjadi Lebih Dewasa



Menjadi dewasa, adalah proses aksiomatik yang terjadi pada setiap diri manusia normal. Karena, bila proses itu tidak berjalan demikian, itu berarti ada yang tidak normal dalam diri manusia itu.

Menjadi dewasa, adalah juga suatu keputusan yang penuh tanggung jawab dan konsekuensi. Karena, setiap orang dewasa akan selalu bertanggung jawab penuh akan apa yang dikerjakannya, dan memahami betul bahwa setiap perbuatan akan ada konsekuensi logisnya.

Menjadi dewasa, adalah juga suatu pilihan dalam menyikapi segala ujian kehidupan. Karena, betapa banyak manusia yang memilih cara kekanak-kanakan dalam menyelesaikan urusan atau masalah kehidupannya, berjiwa kerdil, lari dari tanggung jawab, tidak menerima kenyataan, dan lain sebagainya, itulah diantara sifat yang menunjukan ketidak-dewasaan seseorang. Termasuk didalamnya bagaimana berprilaku, dan berinteraksi kepada sesama manusia.

Untuk menjadi dewasa, seseorang harus memperhatikan beberapa hal yang menjadi tolak ukur apakah orang tersebut telah menjadi dewasa, atau belum. Diantara faktor-faktor itu adalah:

  1. Kematangan berfikir: Seorang yang dewasa, tahu bagaimana harus berfikir sebelum bertindak (berbuat). Ia tahu betul pentingnya perencanaan sebelum melakukan suatu hal, dan evaluasi setelah melakukannya; tidak serta merta, dan tidak “grabak-grubuk”. Seorang yang dewasa dapat berpikir logis, dan kritis.
  2. Kedewasaan emosional: Seorang yang dewasa, dapat memahami dan mengendalikan gejolak emosinya. Justru itulah yang membedakannya dengan seorang anak kecil, yang tidak tahu mengapa ia emosi dan bagaimana mengendalikannya. Ia mampu menyalurkan dan menempatkan emosinya pada sesuatu yang benar, tidak salah kaprah.
  3. Kecerdasan ruhaniyah: Seorang yang dewasa, memiliki jiwa yang tenang; dalam arti tidak ada kegundahan yang menyebabkan jiwanya labil. Kecerdasan ruhaniyah adalah kemampuan ruhani untuk meyakini dan memahami, bahwa ketenangan sejati itu bersumber dari yang Maha Menenangkan. Ruhani yang cerdas, mampu mengetahui betul bahwa banyak keterbatasan yang ia miliki, sehingga ia dapat menempatkan diri di hadapan Sang Penciptanya, mengetahui hak-Nya, dan melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab dan keikhlashan.
  4. Kepekaan sosial: Seorang yang dewasa, akan melihat dirinya adalah bagian dari masyarakat. Suatu komunitas hierarki yang majemuk. Kepekaan hati terhadap masalah dan kondisi sosial realita, akan mampu menumbuh-kembangkan rasa empati, yang menepis jauh-jauh rasa egois dalam berbuat suatu hal. Seorang yang dewasa akan sangat peka, bahwa apa yang dia berikan hari ini kepada orang lain, suatu saat akan dia terima dari orang lain.

Penjelasan diatas jelas belum cukup. Itu semua hanya permukaan saja. Masih banyak aspek yang dapat dikaji lebih dalam lagi, dari suatu sikap dan sifat yang menunjukan kedewasaan seseorang.

Namun, setidaknya, ada yang perlu diingat disini, bahwa menjadi dewasa itu tidaklah sulit, dan bukan hal yang menakutkan. Untuk menjadi dewasa hanya dibutuhkan pengalaman, dan kemampuan mengambil hikmah dari pengalaman itu tentunya. Sementara pengalaman itu, bergantung pada waktu. Itu berarti, sudah seharusnya seorang yang semakin tua, semakin banyak pula hikmah dan ibroh dari pengalaman yang ia miliki dalam hidupnya. Itu sudah cukup membuatnya menjadi lebih bijak dalam menjalani hidup. Dan sifat bijak adalah milik orang-orang yang dewasa. Maka, belajarlah untuk menjadi seperti itu…

Setelah pengalaman, ada satu lagi yang penting, yaitu: Keluasan pergaulan. Untuk mengambil makna dari luasnya pergaulan, sangat bergantung pada: dengan siapa kita bergaul, dan apa yang bisa kita dapat perbuat dalam pergaulan tersebut (kebaikan tentunya).

Sabtu, 09 Oktober 2010

AKU

Aku memamng tak sempurna..
seperti Allah yang mnciptakanku..
Aku memang tak mendekati sempurna...
seperti Nabi Muhammad SAW..

Aku hanya manusia biasa..
Punya banyak kesalahan dan kekhilafan...
Aku juga manusia yang banyak..
melanggar perintah-perintah-Nya..

Izinkan aku ya Allah..
untuk berusaha menjadi manusia terbaik..
manusia yang selalu mematuhi perintah-Mu..
dan menjauhi segala larangan-Mu..

Aku memangmanusia hina...
Yang mungkin tak pantas untuk di puji...
tetapi itulah 1 hal yang dapat membuat ku..
Menjadi manusia yang rendah hati...

Rabu, 18 Agustus 2010

Cara Menjaga Persahabatan

1. Jadilah pendengar yang baik buat teman-temanmu.
Jangan pernah sekalipun kamu bersikap menggurui. Memberi nasihat boleh-boleh aja, tapi jangan melakukannya dengan cepat. Pelahan-lahan namun pastikan temanmu itu mendengarkannya.

2. Setiap orang memiliki pribadi yang unik dan khas.
Cobalah mengerti bagaimana karakter temanmu. Hormatilah pendapatnya. Walau kadang kalian bisa saling berbeda pendapat dan keyakinan, namun pasti ada jalan tengah yang bisa ditempuh asal jangan tergesa-gesa memutuskannya.

3. Peliharalah kepercayaan yang telah diberikan oleh teman dekatmu itu.
Jangan pernah sekali-kali kamu mengobral rahasia temanmu pada orang lain. Saling jaga rahasia, anggap saja antara kalian ada sebuah permainan yang hanya bisa dimainkan oleh kamu dan temanmu.

4. Berilah dukungan dan pujilah temanmu, kesampingkan kesalahannya dan kelemahannya.

5. Jangan pernah merasa iri kepada temanmu.
Kebahagiaannya adalah bahagia milikmu juga. Ikut berbahagialan atas keberhasilan temanmu.

6. Dekat bukan berarti harus tergantung satu sama lain.
Berikan pertolongan secukupnya. Jagalah 'jarak' yang wajar. Mundurlah sedikit bila kita merasa pertemanan sudah terlampau dekat. Sebaliknya, mendekatlah kala kita merasa pertemanan sudah semakin renggang.

7. Sisihkan waktu untuk melakukan kegiatan refresing bersama.
Kembangkan sikap toleransi, fleksibelitas, asertive, empati dan belajar saling memahami.

8. Jangan pernah ragu untuk minta maaf pada temanmu saat kamu melakukan sebuah kesalahan padanya.
Setelah itu berusahalah perbaiki kesalahanmu. Begitu pula sebaliknya, berikan maaf dan lupakan kesalahannya jika ia bersalah.

Sahabat

Di saat aku membutuhkan mu..
kau selalu ada untuk ku..
kau selalu menemaniku..
di saat sedih maupun senang...

ohh.. sahabat..
tetaplah kau di samping ku..
memberiku semangat mu..
Agar ku tetap tegar dalam hidup ini...

Maafkan aku..
yang mungkin tlah banyak...
membuatmu sedih bahkan kecewa..
atas setiap perbuatanku...

Aku ingin kau selalu ada..
dalam setiap hari-hari ku..
dan tetaplah menjadi sahabat ku..
sahabat sejati untuk selamanya..

terima kasih sahabat..
yang telah banyak memberi ku..
arti dan makna apa itu sebenarnya..
persahabatan yang sejati..